
PALANGKA RAYA-cakra.co.id
Kalimantan Tengah berduka. Julius Alfons Sandan, atau J.A. Sandan pejuang kemerdekaan, politisi, sekaligus pencipta lagu daerah Dayak berpulang pada Rabu, 30 September 2026, pukul 23.45 WIB di RSUD Doris Sylvanus Palangka Raya, dalam usia 100 tahun.
Almarhum lahir di Kuala Kapuas pada 3 Juli 1926 sebagai anak sulung dari 11 bersaudara, pasangan Bruno Sandan dan Maria Mihing.

Kondisi kesehatannya menurun drastis dalam tiga hari terakhir, hingga ia dibawa ke IGD RSUD Doris Sylvanus pada pagi hari sebelum berpulang.
Dari Medan Perjuangan
Ia bertugas sebagai Bo’Ei Teisin Tai pada 1944, lalu bergabung dengan BPRI-K (Oktober 1945) dan MN-1001/MTKI (Juli 1946). Pada Desember 1949 ia diangkat menjadi Letnan Muda TNI di Banjarmasin dan berdinas hingga berpangkat Kapten Infanteri di Kodam XI Tambun Bungai pada 1962.

Atas pengabdiannya, ia menerima sejumlah tanda jasa, antara lain Bintang Gerilya, Bintang Sewindhu, dan Satya Lencana Perang Kemerdekaan I dan II.
Mengabdi di Pemerintahan dan Organisasi
Pada 1963 ia diangkat sebagai Kepala Staf Khusus Gubernur KDH Tk. I Kalteng, dan pada 1965-1967 menjadi anggota BPH Daerah Tk. I Kalteng.
Ia kemudian tiga periode menjadi anggota DPRD Tingkat I Kalimantan Tengah dari unsur Golkar (FKP) pada 1971-1987.
Ia juga aktif di banyak organisasi, di antaranya Ketua DPD SOKSI Kalteng, Ketua DPD KBSI/SPSI Kalteng, Wakil Ketua dan Penasihat DPD PEPABRI Kalteng, serta Penasihat Lembaga Pesparawi Tk. I Kalteng.
Ia pernah pula menjadi pengusaha kayu.
Pencipta Lagu Daerah Dayak
Bagi banyak orang, nama J.A. Sandan paling lekat dengan musik. Ia menciptakan lagu rohani dan lagu daerah Dayak yang hingga kini dinyanyikan di berbagai acara, antara lain “Ka Danau”, “Riwut Andau”, “Haruyung Manggetem”, “Sipet Sarau”, dan “Hanjak Sanai”.
Ia juga menciptakan Mars Kabupaten Kotawaringin Timur “Habaring Hurung”. Ia pernah menjabat Wakil Ketua Bina Musika Bungai Tambun Palangka Raya.
Penghormatan dari para binaan pada malam kedua persemayaman, kelompok paduan suara dan pemuji peserta Pesparawi yang pernah dibina almarhum berdatangan ke rumah duka.
Pada Jumat malam, Gubernur Kalimantan Tengah H. Agustiar Sabran dan rombong melayat ke rumah duka.
Kedatangan gubernur disambut dengan rasa syukur dan suka cita oleh keluarga almarhum dan para pelayat lainnya.
Mereka menyanyikan lagu-lagu pujian sebagai penghormatan terakhir bagi sosok yang semasa hidupnya mengabdikan diri pada pembinaan seni musik gerejawi.
Pesan Syukur yang Selalu Diingatkan
Menurut keluarga, almarhum dikenal sebagai pribadi yang setia dan penuh syukur. Pesan yang paling sering beliau sampaikan adalah agar setiap orang memuji Tuhan dengan talenta yang dianugerahkan kepadanya.
“Pujilah Tuhan dengan talenta yang diberikan-Nya. Jangan bersyarat. Naikkan puji-pujian dan ucapan syukur, apa pun keadaanmu,” demikian pesan almarhum yang diingat keluarga.
Keluarga dan Pemakaman
Almarhum meninggalkan seorang istri, Mariana Anggen (Indu Hawon), 18 anak (3 di antaranya telah mendahului), 40 cucu, dan 29 cicit.

Jenazah disemayamkan di kediaman almarhum, Jl. Manunggal V/54, Palangka Raya, dan akan dimakamkan pada Minggu, 4 Oktober 2026, pukul 11.00 WIB ibadah pemberangkatan menuju TPUD Kristen Km 2,5 Palangka Raya dilanjutkan upacara pemakaman secara militer.(red)


